February 18, 2008
Jangan Dijajah Tim Sukses
Oleh Firda Badrie
Deklarasi pasangan calon gubernur-wakil gubernur Jatim Sukarwo-Saifullah Yusuf yang diusung gabungan Partai Demokrat dan Partai Amanat Nasional Jatim kemarin cuku meriah. Deklarasi itu juga puncak pemenuhan harapan sejumlah aktivis PAN Jatim yang dari awal menyuarakan dukungan untuk Sukarwo sebagai calon gubernur meski sempat menimbulkan pro dan kontra di internal DPW PAN Jatim.
Masih mudah dibuka dan dibaca kembali dari kliping pemberitaan di media massa Jatim, tokoh-tokoh PAN seperti Suyoto, Ahmad Rubaie, dan Kuswiyanto sudah menyuarakan aspirasi mendukung Sukarwo lebih dari setahun silam untuk menduduki jabatan politik tertinggi di Jatim. Mereka itu mengambil posisi yang tidak mudah karena sejumlah pengurus lain waktu itu menolak Sukarwo. Aspirasi Suyoto dkk sementara harus ditahan karena Pak Sukarwo malahan melirik mengikuti konvensi PDIP. Itu wajar saja karena PDIP merupakan partai yang bisa membeli tiket sendiri untuk pilgub.
Perkembangan selanjutnya, seperti yang sudah diketahui, akhirnya PAN bersama Partai Demokrat "menjodohkan" Sukarwo dengan Saifullah setelah yang pertama gagal mendapatkan restu DPP PDIP dan yang kedua lengser dari jabatannya sebagai menteri.
Kedua pasangan itu akan bersaing dengan calon-calon lain yang diusung partai lain, di antaranya Soenarjo (Golkar), Achmady (PKB), dan Sutjipto (PDIP). Belum diketahui kapan para pesaing itu akan melakukan deklarasi.
Munculnya pasangan Sukarwo dan Saifullah merupakan pasangan yang cukup ideal, gabungan antara tokoh senior dan generasi muda, antara seorang yang cukup lama berpengalaman di birokrasi pemerintahan dan tokoh muda yang punya akar kuat di Gerakan Pemuda Ansor.
Jadi, layak PAN dan Partai Demokrat cukup optimistis bahwa pasangan tersebut akan bisa memenangi pilgub di Jatim dan akan memimpin provinsi ini dengan baik sesuai harapan masyarakat.
Harus Dipahami
Tentu saja, ada sejumlah masalah yang harus dipahami dengan baik bagi kandidat. Soekarwo dan Saifullah bukan "orang asli" anggota Partai Demokrat ataupun PAN. Hingga hari deklarasi kemarin pun, tidak ada pernyataan mereka untuk bergabung dengan partai yang memberikan tiket bagi kedua pasangan itu. Tentu, kalangan aktivis Partai Demokrat maupun PAN mempunyai aspirasi dan platform politik yang harus diperjuangkan pasangan tersebut.
Sangat dikhawatirkan jika Pakde Karwo dan Gus Ipul tidak memahami situasi itu sehingga akan muncul gesekan yang tidak perlu. Kekhawatiran yang muncul itu sangat wajar. Sebab, dalam sejumlah pilkada di tempat lain, banyak pasangan yang mendapat tiket gratis begitu terpilih meninggalkan tanpa permisi partai politik yang mendukungnya. Jelas itu menimbulkan kekecewaan yang cukup besar bagi para pendukungnya. Bahkan, sangat mungkin, sebelum terpilih pun, sudah muncul masalah jika tidak ada kepercayaan yang besar di antara kedua pihak.
Dalam persiapan kampanye, Soekarwo-Saiful dipastikan mempunyai tim sukses sendiri-sendiri. Dalam beberapa kasus pilkada di daerah lain, gesekan akan muncul ketika para anggota tim sukses yang notabene bukan anggota partai yang memberikan tiket kepada pasangan tersebut bertingkah polah menjadi "penguasa".
Gesekan menjadi berbahaya jika anggota PAN dan Partai Demokrat yang memiliki rumah akhirnya merasa hanya menjadi anak kos. "Rumahnya" sudah direbut orang lain. Jika situasi itu terjadi, kampanye pemenangan akan sangat rawan dengan konflik yang akhirnya akan menyebabkan kerugian bagi usaha pemenangan pasangan cagub dan cawagub tersebut.
Dalam banyak kasus, pasangan cagub dan cawagub kurang memperhatikan dan mengendalikan tim suksesnya yang tiba-tiba merasa menjadi "orang penting" dan "berkuasa" tanpa menyadari bahwa sikap itu bisa menyakiti pihak yang lain. Kunci yang dimainkan adalah "akses" kepada kandidat.
Dan, yang paling menjengkelkan dan selalu muncul sebagai masalah ialah mereka mempersulit para aktivis partai yang memberikan tiket tadi untuk melakukan kontak dengan kandidat. Para anggota tim sukses itu merasa semakin bisa mempersulit mereka semakin berhasil. Padahal, justru di situlah awal kehancuran kampanye.
Dipastikan akan muncul keluhan: lha belum menjadi gubernur atau wakil gubernur saja sudah sulit ditemui pendukungnya, apalagi kalau terpilih. Ujung-ujungnya, muncul apatisme dan keengganan memperjuangkan kandidat dalam kampanye dan akhirnya mesin partai yang memberikan tiket itu akan macet. Kampanye pun akan mengalami kegagalan.
Jadi, baik untuk cagub Soekarwo maupun cawagub Saifullah Yusuf, sekalipun mempunyai tim sukses yang hebat, tanpa tiket yang diberikan Partai Demokrat dan PAN, keduanya tidak akan pernah bisa muncul sebagai kandidat.
*****
Firda Badrie, wakil ketua DPW PAN Jatim, anggota tim pilgub
Sumber: Jawa Pos