August 2, 2008
Manuver Politik Dan Suara Kejujuran
Oleh Prudensius Maring
Sistem pemilihan umum secara langsung merupakan babak baru demokrasi yang harus disertai transformasi strategi untuk meraih suara dan dukungan rakyat. Dukungan rakyat merupakan keniscayaan dalam dinamika hubungan kekuasaan dan politik. Melalui mekanisme pemilihan langsung, kualitas hubungan yang dilandasi kejujuran dan saling percaya menjadi kian penting.
Kesadaran politik rakyat dan sistem yang kian terbuka seharusnya diikuti kesadaran pencari kekuasaan untuk mengubah strategi dan taktik meraih dukungan. Namun, yang terlihat adalah ketidaksiapan pencari kekuasaan dalam mengolah pikiran, perkataan, dan perbuatannya. Itu terlihat dari manuver politik saling menyerang dan provokatif.
Manuver politik
Manuver politik menempatkan pencari kekuasaan sebagai 'pusat dan subjek' yang tercerabut dari rakyat sebagai akar realitas sosial. Itu terlihat dari manuver yang berorientasi membangun pencitraan diri. Tokoh dan partai politik bergerilya mencari pasangan, mengumbar janji berselubung kepentingan rakyat, dan mengganggu konsentrasi kerja untuk rakyat.
Para pencari kekuasaan seolah hadir di ruang kosong. Dengan percaya diri yang tinggi, mereka berakting bagai aktor tanpa cacat cela. Rakyat ditempatkan sebagai objek dan audiens pasif tanpa memori sosial. Padahal, memori sosial rakyat telah merekam mereka sebagai pemain lama yang gagal memulihkan keterpurukan sosial-ekonomi.
Dalam pentas politik yang kian terbuka, manuver pencari kekuasaan bisa kontradiktif dengan memori sosial rakyat. Pada masa silam, rakyat mengingat pihak tertentu sebagai tokoh yang turut gagal mengatasi keterpurukan sosial-ekonomi, tetapi kini tokoh yang sama tampil mengecam pihak lain dan menegaskan diri sebagai 'tidak bercela'.
Kontradiksi itu secara sistematis mencederai kejujuran dan sportivitas dan ia menunjukkan kemunafikan. Para pencari kekuasaan yang 'pernah' berkuasa tidak sepantasnya membangun citra dengan cara menyudutkan pihak lain. Kaum muda pun tidak sepantasnya mencitrakan diri 'tidak bercela' dengan berlindung di balik kekuatan histori dan alasan reformis yang masih bersifat hipotetis.
Suara kejujuran
Situasi itu mengingatkan pendekatan 'dramaturgi' (Goffman,1959), dalam kehidupan sosial setiap orang berusaha melakukan berbagai strategi untuk meraih kepercayaan dari pihak lain. Untuk mencapai itu orang berusaha maksimal untuk mengelola pentas depan (front-stage) sebagai ruang sekadar berakting. Pentas belakang (back-stage) sebagai ruang ekspresi diri yang sesungguhnya ditutup.
Perhatian tercurah di pentas depan karena ia penting untuk meraih citra positif, meski pentas belakang sebagai realitas kehidupan karut-marut. Manuver politik para pencari kekuasaan adalah pentas yang sesungguhnya, bukan sandiwara. Ia adalah pentas kekuasaan/politik untuk menyejahterakan rakyat. Karena itu, ia tidak bisa dilepas dari rakyat sebagai audiens dengan memori sosial yang dimilikinya.
Memori sosial (rakyat) telah merekam jejak perilaku pencari kekuasaan dan kelak memori itu yang menentukan suara rakyat. Jika para pencari kekuasaan tetap angkuh, suka menyerang, dan menyikut pihak lain, ia akan berhadapan dengan suara rakyat. Suara rakyat adalah ekspresi kekuasaan yang tidak bisa direbut dan tidak bisa dikelabui politik tebar pesona. Sebaliknya, suara rakyat mengapresiasi kejujuran mengakui kesalahan. Ironisnya, hingga kini para pencari kekuasaan menempatkan diri sebagai 'malaikat' yang tidak bercela. Itu terlihat dari manuver politik yang selalu menyerang dan menyalahkan lawan politik.
Pada titik ini, penting bagi kita untuk mengedepankan manuver politik yang jujur. Proses itu dimulai dengan meneropong ke dalam diri, bukan tergesa-gesa menuding dan mendaftar dosa pihak lain. Jika pencari kekuasaan berani melakukan itu, mereka meletakkan dasar yang kukuh untuk meraih suara rakyat. Gagasan ini mengingatkan kita untuk menghindari aksi-aksi sekadar mengelabui rakyat.
Prudensius Maring, Doktor Bidang Antropologi. (Media Indonesia)
