April 1, 2008
Kemelut PKB: Quo Vadis Politik NU?
Siapa pun yang mengamati perkembangan politik NU tidak akan bisa “tidur nyenyak”belakangan hari. Sejumlah ketegangan yang terjadi di tubuh kelompok ini memperkuat asumsi bahwa NU merupakan komunitas politik paling dinamis dibandingkan kelompok manapun. Belum lama ini orang dikejutkan oleh tuntutan pengunduran diri Ketua Umum Dewan Tanfidz DPP PKB Muhaimin Iskandar oleh Ketua Umum Dewan Syuro KH Abdurrahman Wahid.Tapi siapa pun tahu, pemecatan itu adalah kulminasi dari terjadinya perkubuan baru dalam tubuh partai warga nahdliyin itu sejak beberapa bulan lampau.Muhaimin telah lama disinyalir Gus Dur melindungi sekelompok tokoh muda PKB yang ingin melakukan pembaruan dalam partai.
Sayangnya, salah satu dari target pembaruan itu adalah mereformasi sebuah ”institusi”vital partai bernama Gus Dur. Sebelum menular terlalu jauh, Abdurrahman segera memecat mereka dari kepengurusan partai hampir setahun silam. Untuk menjelaskan betapa vitalnya “institusi” bernama Gus Dur itu, mari kita perhatikan ungkapan tiga politisi PKB berikut ini. Mahfud MD, mantan Ketua DPP PKB yang sempat mengikuti rapat pleno “pemecatan” Muhaimin, menjelaskan, ”Muhaimin diminta mundur karena dilaporkan tengah menggalang kekuatan di daerah-daerah untuk menjatuhkan Gus Dur lewat MLB.” Sementara Effendy Choirie,Ketua Fraksi PKB DPR, berkata, ”Lebih baik Cak Imin (Muhaimin Iskandar) tidak melawan keinginan Gus Dur. ”Pernyataan Muhaimin sendiri perlu diketengahkan di sini, ”Saya masih loyal kepada Gus Dur…Saya membela mati-matian pencalonan Gus Dur sebagai presiden.”
Sejak PKB didirikan, Gus Dur memang menjadi maskot utama partai. Tidak perlu dijelaskan bagaimana dia bisa muncul sebagai figur yang sangat berpengaruh. Sudah banyak ulasan mengenai bagaimana sepak terjangnya selama 15 tahun memimpin NU. Tapi yang jelas, jutaan massa NU memilih PKB karena kecintaan mereka terhadap Gus Dur. Kenyataan seperti ini sangat disadari oleh Abdurrahman maupun para politisi PKB. Hal ini pula yang membuat hubungan patronase di PKB tidak bisa dielakkan. Bagi Gu Dur, kepatuhan itu membuatnya leluasa mengatur irama partai sesuai kehendaknya. Bagi para politisi, hal itu bermakna dua hal. Di satu sisi, mereka tidak bisa berbuat banyak, bahkan saat Gus Dur ingin mengubah anggaran dasar (AD) dan anggaran rumah tangga (ART) sekalipun.
Apalagi “sekadar” membekukan sebuah kepengurusan atau memecat personel. Di sisi lain, mereka bisa memanfaatkan kelemahan fisik Gus Dur dengan menggiring opini dan mengolah informasi agar kepentingan mereka disuarakan oleh Gus Dur. Maka, dalam hal ini orang harus melihat semua tindakan yang muncul dari kebijakan Gus Dur adalah kompleks dari perpaduan kepentingannya dan kepentingan sejumlah politisi pengiringnya.Para pembaru muda PKB itu mungkin memandang bahwa situasi semacam ini tidak terlalu sehat. Meski tak seorang pun meragukan kegeniusan Gus Dur, terlalu riskan menisbatkan sebuah sistem kewenangan pada sesosok figur. Tapi,begitulah politik NU. Para pembaru itu hanya akan membentur tembok besar. Selama puluhan tahun NU dibangun lewat mesin besar patronase.
Abdurrahman sendiri sebenarnya telah jauh-jauh hari mengantisipasi tradisi itu. Karenanya, dia menjadi sponsor naiknya KH Hasyim Muzadi sebagai penggantinya di NU. Figur terakhir ini sebelumnya memang dikenal sebagai manajer organisasi yang andal. Hasyim memang terbukti mampu melakukan konsolidasi organisasi. Tapi seperti halnya Gus Dur, lagi-lagi dia tidak kuasa menghindari takdirnya sebagai patron baru dalam NU. Dengan sumber daya yang sama besar, persaingan antarpatron pun menjadi persaingan antarorganisasi warga nahdliyin: Gus Dur dengan PKB-nya dan Hasyim Muzadi dengan NU-nya.
Quo Vadis Politik NU?
Konflik di tubuh PKB yang tak kunjung usai menjadi cermin dari betapa rumitnya persoalan dalam politik NU. Semua orang menginsyafi bahwa meski berbentuk ormas keagamaan, NU tidak bisa mengingkari masa lalunya sebagai organisasi politik. Ini berarti, budaya politik yang terbangun puluhan tahun tidak pernah hilang,bahkan justru semakin menguat saat ini. Tetapi sayang,dalam berpolitik, para politisi NU tidak mau mengompromikan warisan kultural mereka. Akibatnya,tradisi politik modern yang mengandaikan pembangunan sistem politik yang kuat,organisasi kepartaian yang tertata, rekrutmen kepemimpinan berbasis kemampuan (merit-based leadership), dan mekanisme kompetisi yang sehat sulit berkembang dalam politik NU.
Para politisi NU justru menjadikan warisan kultural ini sebagai modal utama dalam berpolitik. Para politisi mengeksploitasi simbol- simbol kultural seperti kiai,pesantren, atau istighsah sebagai kekuatan politik mereka. Akibatnya, preferensi politik massa ditentukan oleh patronase figur, bukan keandalan program. Rekrutmen kepemimpinan juga tidak kompetitif karena selalu didominasi oleh elite-elite kultural. Persaingan justru terjadi antarelite itu sendiri yang tak jarang masih ada hubungan keluarga. Lebih dari itu, tidak ada sistem yang kuat karena aturan organisasi selalu bisa dikalahkan, atau setidaknya dimanipulasi oleh figur patron.
Selain kasus PKB,kita bisa melihat misalnya apa yang terjadi di Jawa Timur. Di basis utama NU itu,sejumlah petinggi NU dapat dipastikan akan bertarung dalam pemilihan gubernur yang akan dihelat bulan Agustus tahun ini. Mereka adalah Ketua Tanfidziyah PWNU setempat, Ketua Umum GP Ansor, dan kabarnya juga Ketua Umum PP Muslimat NU.Dapat dibayangkan betapa sejumlah institusi kultural seperti pesantren dan kiai akan dimobilisasi untuk mendukung masing-masing calon dan memengaruhi opini warga NU.
Ke depan,para politisi NU sejatinya mulai memikirkan sebuah reformulasi terhadap tradisi politik mereka. Bagaimanapun,tidak mungkin menghilangkan darah politik yang menghidupi NU puluhan tahun,sebagaimana tidak realistis membatasi afiliasi politik warga NU yang beragam.Namun, para politisi NU perlu mencari titik temu antara warisan kultural mereka dan format politik modern yang sangat dinamis.Para patron tidak akan dilahirkan lebih dari sekali,sementara perubahan lahir setiap hari.
IRSYAD ZAMJANI, Mahasiswa Pascasarjana Departemen Sosiologi FISIP UI
Sumber : Koran Sindo